Rabu, 28 September 2011

Ringkasan Serat Centhini Jilid-10

Serat Centhini Jilid-10 berisi 38 pupuh dari pupuh 600 s/d 637, isinya: setelah tidak menemukan Seh Amongraga, Jayengwesthi (Jayengresmi), Jayengraga, Kulawiryo diiringi santri Nuripin memutuskan untuk kembali ke Wanamarta serta ditangkapnya Seh Amongraga kemudian dilarung (dibuang) di laut selatan karena Jamal dan Jamil dianggap bikin rusuh diwilayah kekuasaan Sultan Agung di Mataram..
Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: Masih dikediaman Ki Kidang Waracapa di Trenggalek Lembhuasta; Jayengrana menikah dengan Rara Widuri yang sering bikin onar karena obsesif (cemburuan) adalah anak dari Ki Demang Prawirancana dari Trenggalek Wulan;
Ki Kulawirya terkena penyakit rajasinga, mimpi ketemu Jamal dan Jamil yang mengatakan bisa sembuh asal memenuhi salah satu dari tiga sarat yaitu bersetubuh dengan gadis yang masih perawan atau dengan wanita yang sedang menstruasi, atau bersetubuh dengan kuda; Karena sulit mendapatkan gadis yang masih perawan, takut dosa kalau bersetubuh dengan wanita yang sedang menstruasi, akhirnya terlaksana dan bisa sembuh setelah bersetubuh dengan kuda; Diadakan perayaan ngunduh mantu oleh Ki Demang Prawirancana dengan mengundang ronggeng; Setelah tujuh hari, Jayenwesthi, Jayengraga, Kulawiryo dan Nurupin berpamitan mau meninggalkan Trenggalek Lembhuasta; Rara Widuri yang ditinggal di Trenggalek Lembhuasta menjadi linglung kemudian disembuhkan oleh Retna Ginubah dan dibawa pulang oleh orang tuanya ke Trenggalekwulan; Menuju gunung Rajegwesi, lewat gunung Purwa sampai di desa Gubug ketemu Seh Ekawerdi teman akrabnya Ki Bayi Panurta; Sampai di desa Saren, gunung Bajak, gunung Bundhel, gunung Tengeng, desa Wajak Watu-urip, nyebrang hutan Rawa, lihat Sendang Patimbulan, masuk gua Menak satu malam; Paginya sampai di desa Bopong, desa Wunut, hutan Wratsari, desa Sarengat, gunung Pegat, gunung kecil Bagendhul di hutan Salembut; Sehari kemudian sampai Wirasaba yang sudah dekat Wanamarta; Sesampainya di Wanamarta langsung menghadap Ki Bayi Panurta dan menceritakan bahwa belum bisa ketemu dengan Seh Amongraga yang makin menambah kesedihan Niken Tambangraras maupun kedua orang tuanya.
Rute perjalanan Seh Amongraga: sudah beberapa lama berada di desa Semanu, Gunung Kidul, Mataram dan senantiasa manekung (kosentrasi memuji kepada Allah SWT) di grobogan dalam mesjid; Jamal dan Jamil setiap hari membuat pertunjukan ilmu karang dan ilmu sihir yang menghadirkan ribuan penonton, lama-lama kedengaran oleh Sultan Agung karena dianggap membuat onar, sehingga mengutus Tumenggung Wiraguna untuk menangkap Seh Amongraga; Seh Amongraga tidak melawan ketika ditangkap, kemudian dimasukkan dalam keadaan hidup kedalam bronjongan (kurungan) dilarung (dibuang) di laut selatan, bronjongan kembali kedaratan dalam kedaaan kosong dan terdengar suara dari Seh Amongraga: “Kyai Wiraguna, katakan pada Sultan Agung telah terlaksana kehendaknya saya sudah terlepas dari keduniawian”; Jamal dan Jamil melarikan diri kembali ke Wanamarta menceritakan apa yang terjadi yang makin menambah kesedihan Niken Tambangraras dan semua keluarganya; Tumenggung Wiraguna menceritakan apa yang terjadi kepada Sultan Agung dan dijawab bahwa apa yang terjadi bukan hukuman hanya sarana untuk mengantarkan Seh Amongraga ke alam kesempurnaan melalui wibawa raja; Sunan Giri Parapen yang setelah kalah perang, disandera dalam lingkungan istana di Mataram mendengar cerita bahwa anaknya Seh Amongraga meninggal dilarung dilaut selatan, menjadi sangat sedih yang mengakibatkan wafatnya.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-10 adalah:
Cerita/Legenda: Cerita tentang Arya Banyakwulan dari Singasari, perihal asal usul ikan kramat di kedung Bagong;
Adat Istiadat: Perbedaan wayang Krucil dan wayang Purwa.
Pengetahuan Spirituil/Agama: Perlambang wayang sebagai perlambang hakekat yang sejati; Makna rasa topeng; Hakekat pengabdian; Hakekat ilmu kajatmikan (ketenangan hati)

Sumber: seratcenthini.wordpress.com

Ringkasan Serat Centhini Jilid-09


Serat Centhini Jilid-9 berisi 93 pupuh dari pupuh 507 s/d 599, isinya lanjutan perjalanan Jayengwesthi (Jayengresmi), Jayengraga, Kulawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga karena merasa kasihan melihat keadaan Niken Tambangraras.
Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: Masih di desa Pulung, tayuban dirumah Randha Sembada yang hyperseks, diceritakan bisa melayani siang tiga laki-laki dan malamnya tiga laki-laki; Cerita sekitar tajuban, sinden dan ronggeng maupun perilaku maksiat dari Randha Sembada, Jayengrana dan Kulawirya;
Paginya melanjutkan perjalanan sampai di gua Padhali yang sangat luas menginap 1 malem; Kedatangan Ki Sinduraga diajak mampir kerumahnya bercerita tentang desa Wengker atau Pura Katongan yang dulunya istana Batara Katong; Sholat di mesjid Tajug yang dibuat oleh Kyai Tajug dari Giri; Menuju gunung Padhangeyan diiringi petunjuk jalan Ki Wanalela, lewat desa Seladhakon sampai di Astana Pakuncen tempat makam Batara Katong leluhur Panaraga; Sampai di Jenangan ketemu petingginya Narakosa bercerita tentang Watu Towok (Batu Towok) yang dikaitkan dengan cerita Panji Asmarabangun; Sampai di padhepokan Ki Seh Sidalangu teman akrab Ki Bayi Panurta di gunung Padhangeyan; Ke gua Sentor tinggal selama 10 hari (yang bisa tembus ke gua Pedhali) tempat pertapaan Dewi Kilisuci; Diiringi Ki Pakuwaja menuju gunang Bajangkaki yang angker; Ketemu Ki Dathuk diajak mampir kerumahnya di desa Pranten; Sampai di gua Sangsangan terus naik ke puncak gunung Bajangkaki; Sampai di desa Tegaren menginap di rumah Cangrageni yang sebetulnya adalah kepala begal (perampok); Malamnya barang-barangnya mau di ambil, dilawan oleh Kulawirya, semua perampok kalah dan lari; Sampai di desa Longsor ketemu petingginya Ragamenggala dan modinnya Nurbayin; Malemnya Jayengraga melayani tiga anaknya modin Nurbanin yang perawan tua karena kurang cantik bernama Banem, Banikem, Baniyah; Lewat desa Padakan yang sedang tawuran dengan desa Mungur rebutan tempat menggembalakan hewan piaraan (dua desa ini dari dulu selalu bermusuhan); Sampai di kedhung Bagong banyak ikannya tapi angker tinggal 1 malam; Sampai didesa Trenggalek Lembhuasta di kediaman Ki Demang Ngabei Kidang Wiracapa temen akrab Ki Bayi Panurta, diterima oleh istri Ni Widaryati dan adik-adinya Wirabancana, Wirangkara, dan Wirabraja, punya anak satu namanya Retna Ginubah senangnya menjelajahi hutan, hanya sekali-kali saja pulang.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-8 adalah:
Cerita/Legenda: Batara Katong leluhur orang Panaraga; Cerita tentang Panji Asmarabangun; Cerita tentang sembilan teman akrab Ki Bayi Panurta yaitu: Cariksutra, Carikmuda, Kidang Wiracapa di Trenggalek Lembhuasta, Wargasastra atau Ki Seh Sidalaku di gunung Pandhangeyan, Harsengbudi, Sinduraga, Melarcipta punya santri bernama Bawuk yang setelah jadi Penghulu ganti nama jadi Basarudin, Arundaya atau Ki Bayi Panurta di Wanamarta, Danumaya atau Ki Dhatuk.
Adat Istiadat: Ilmu-ilmu berkaitan dengan kejahatan: perhitungan hari baik untuk keberhasilan kejahatan, penggunaan kata-kata sandi dikalangan para penjahat, mantera maupun ajian dikalangan para penjahat; Sandi-sastra dan Sandi-kirana; Perhitungan dan syarat berkaitan dengan pertanian agar subur dan tidak terkena hama.
Pengetahuan Spirituil/Agama: Sembilan tingkat derajat Islam; Serat Panitisastra; Hal-ihwal keduniawian dan keakhiratan; Cacat-cela watak-tabiat manusia; Hubungan antara topeng, gamelan, gendhing, wayang dan dhalang dengan menyembah kepada Allah SWT

Sumber: seratcenthini.wordpress.com

Ringkasan Serat Centhini Jilid-08


Serat Centhini Jilid-8 berisi 103 pupuh dari pupuh 404 s/d 506, isinya lanjutan perjalanan Seh Amongraga dan perjalanan kakak-kakak serta paman Niken Tambangraras yaitu Jayengwesthi, Jayengraga, Kalawiryo diiringi santri Nuripin mencari Seh Amongraga.
Rute perjalanan Seh Amongraga: Di gua Sraboja 4 hari; Gunung Sakethi, Bungkak, Bau, Lerek, Kunci, Patak, Tekong; gua Kalak ketemu Ki Lokasraya 21 hari; Turun ke lembah masuk ke gua Songputri yang indah seperti keputren; Menuju barat laut lewat gunung Salumbat, Curak, Purak, Belah, menyebrangi sungai Bendha; Naik gunung Senggami lihat telaga Madirdo tempat minum kuda sembrani; Pertapaan Andhongdhadhapan di gunung Retawu 4 malam; Gunung Wiratha wilayah Wonogiri;
Gunung Delapih lewat hutan Tireban; Sampai di puncak gunung Delapih yang dikelilingi gunung-gunung kecil terlihat banyak binatang-binatang besar, setelah berdoa hilang yang kedengaran kemudian suaranya pimpinan mahluk halus; Setelah bersemedi Seh Amongraga bisa melihat bunga yang indah di tengah telaga Celereng yang airnya sangat bening didalamnya ada batu-batu kecil warna-warni; Gua Selamunggul kelihatan seperti mulut raksasa besar dan didalamnya ada batu seperti tempat tidur, diselanya mengalir air jernih, terlihat gua Jatharatu Kenyapuri; Di Delepih ini ada legenda tentang Penembahan Senapati (pendiri kerajaan Mataram) yang menikahi Nyi Loro Kidul dan anak perempuannya bernama Ratu Widanangga; Menuju ke timur laut sampai di gunung Lawu; Melewati akar batu sampai di Pangaribaya; Naik sampai Marcukundha; Berhenti di Pekelengan kemudian tiba-tiba keadaan jadi gelap dan hawa menjadi dingin dan terdengar banyak suara orang ramai teriak-teriak seperti sedang berperang; Menuju ke Arga Dalem, Melewati Prepat Kepanasan sampai di gunung Diyeng; Berhenti di Arga Dalem 4 hari; Ke Arga Dumilah; Ada burung jalak-gadhing memberi petunjuk jalan; Mengikuti burung jalak-gadhing sampai di kawah Candradimuka, duduk di batu Mandragini, karang Widadaren, terus ke Sanggar-gung dan gunung Petha-pralaya, ke tenggara sampai di Tejomaya, Cemarasewu, turun ke Telagapasir, Telagasandi; Naik lagi ke desa Gandasuli; Sampai di Sela-bantheng, Cemara-lawang, gua Padhas; Kembali ke Arga-Dalem; Sampai di Jati Jempina di puncak gunung Tiling; melewati gunung-gunung: Arga Pawenang, Arga Bayu, Arga Candhirengga, Arga Rimbi, Arga Kathili, Arga Aji, Arga Bintulu, Arga Sukuh, Arga Tambak yang banyak terdapat arca-arca; ketemu Ajar Wregasana yang menceritakan tentang pucak gunung Lawu yang semua ada 15, 7 disebelah selatan dan 8 disebelah utara; Ajar Wregasana menjelaskan tentang agama Budha; Berdebat tentang kesempurnaan hidup; Ajar Wregasana merasa kalah sehingga masuk agama Islam dan diganti namanya jadi Ki Wregajati kemudian ikut serta Seh Amongraga lelanabrata; Menyebrang Sungai Sara, kebarat sampai di gunung Adeg; Tirakat di gunung Bangun 15 hari; Jamal dan Jamil mengajarkan ilmu karang (debus) dan ilmu sulap, orang-orang desa sangat kagum dan dianggap guru; Ketemu Lurah desa Lemahbang bernama Sutagati; Jamal dan Jamil menjemput Seh Amongraga dengan banyak santrinya lalu disuruhnya mendirikan mesjid; Memasuki daerah Mataram lewat Jatisaba, gunung Sarembat (Sapikul), Kabaseng, menyebrang Sungai Oya, keselatan sampai ke hutan Jaketra; Tiba di gunung Pagutan; Gunung Sakethi; Keselatan sampai di gunung Jimbaran, berhenti di gunung Sambirata bersama para santrinya yang berjumlah 760 orang; Gunung Gora diwilayah hutan jati Giring dibagian pinggir laut selatan yang ada tiga gua yang menyeramkan, gua Manganti, gua Celor, gua Songpati; Di wilayah Giring terdapat banyak bekas pertapaan, memilih dusun Kanigara sebagai tempat persinggahan dan membuat mesjid disini; Ke gunung Jakatuwa diikuti 1800 santri; Tirakat di gua Celor, masuk gua Manganti di tepi kali Oya tempat Sultan Agung bersemedi; Sampai Meladan ketemu jurukuncinya bernama Ki Batulata; terus ke Drekaki; berhenti di gunung Bungas, masuk ke gua Song-pati tempat Sultan Agung jadi pertapa bernama Seh Bangkung; terus kembali ke Kanigara yang kepala desanya bernama Ki Wanamennggala; jumlah santrinya sudah menjadi 3000 orang.
Rute perjalanan Jajengwesthi, Jayengraga, Kulawirya, Nuripin: sampai di desa Kepleng di rumah Suradigdaya yang punya anak bernama Matiyah dan keponakannya janda muda; Kulawirya mengajak tetabuhan sambil tayuban. Sindennya bernama Gendra; Jayengwhesti tidak mau ikut-ikutan; Jayengraga menggoda Matiyah tapi ditolak, yang didapat si janda muda. Kulawirya kesampaian mendapatkan sinden Gendra; Paginya keluar desa masuk hutan Selambur, hutan Bagendhul, desa Palemahan, desa Mamenang, ke kedung Bayangan, gunung Klothok; Di desa Pakuncen ketemu Ki Wanatawa bertanya apakah pernah ketemu Seh Amongraga dijawab tidak pernah; Malamnya nginep di gua Selamangleng dulu padepokannya Dewi Kilisuci – pendita wanita; ke Pakareman ketemu Seh Ragayuni dari padepokan di gunung Kalengleng, menanyakan keberadaan Seh Amongraga yang dijawab berada di daerah barat daya tapi dianjurkan tidak usah disusul, nantinya Seh Amongraga akan bertempat tinggal di Wanataka dan semuanya akan bisa ketemu disana; Esok paginya setelah pamitan, Ki Ragyuni menghilang, semuanya keheran-heran; Sampai di desa Pulung menuju rumahnya penghulu Jabalodin; diceritakan petualangan maksiat antara Kulawirya dengan Randha Sembaga yang gemar laki-laki maupun Jayengraga dengan sinden Kecer; Jayengwesthi sebetulnya kurang begitu berkenan tapi tidak bisa apa-apa.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-8 adalah:
Cerita/Legenda: puncak Gunung Lawu yang angker dianggap kahyangan seperti di Pewayangan; Panembahan Senapati (pendiri kerajaan Mataram) yang menikahi Nyi Loro Kidul sebagai penjaga dilautan dan sekaligus anak perempuannya bernama Ratu Widanangga sebagai penjaga didaratan.
Adat Istiadat: Pakuwon, Pranatamangsa, Padewan, Padangon, Pancasuda, Sengkanturunan, Taliwangke, Samparwangke, Paringkelan yang kesemuanya sifat-sifat hari menurut penanggalan Jawa.
Pengetahuan Spirituil/Agama: Perihal agama Budha; wajib rasul dan mokal rasul; langkah tobat laku maksiat.

Sumber: seratcenthini.woedpress.com

Ringkasan Serat Centini Jilid-07

Serat Centhini Jilid-6 berisi 15 pupuh dari pupuh 357 s/d 372, berlainan dengan jilid-jilid sebelumnya pada jilid ini bukan berisi cerita perjalanan tapi lebih fokus pada cerita pernikahan antara Jayengresmi yang sudah berganti nama Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras anak dari Ki Bayi Panurta dari Wanamarta, Mojokerta.
Pada jilid ini untuk pertama kali disebut nama Centhini yang adalah rewang (pembantu) Niken Tambangraras. Serat Centhini ini pada awalnya bernama Suluk Tambangraras yang kemudian diganti dengan nama Serat Centhini, sebagai penghargaan terhadap kesetiaan Centhini yang selalu mendampingi Niken Tambangraras.
1. Upacara Akad Nikah: Seh Amongraga minta agar perayaan tidak dengan cara yang mengandung maksiat seperti nanggap sinden ronggeng; Diceritakan juga pakaian yang dikenakan baik oleh pengantin laki-laki dan wanita maupun ayah bunda pengantin wanita yang memakai pakaian tradisional di daerah pesantren. Dilaksanakan di mesjid oleh Ki Pengulu yang menikahkan pengantin disaksikan wali ayah pengantin wanita Ki Bayi Panurta serta para saksi lainnya.
Note: pada umumnya dikalangan yang pengaruh pesantrennya masih kuat akad nikah dilakukan tanpa kehadiran pengantin wanita, hal ini masih berlaku sampai saat ini. Berlainan dengan upacara pengantin dikalangan keraton (istana) yang diadaptasi rakyat secara umum.
2. Upacara Pertemuan Pengantin: Pertemuan pengantin dilakukan didepan pintu pendapa dengan kedua pengantin lempar-lemparan daun sirih, pengantin laki-laki memecah telur dan pengantin wanita membasuh kaki pengantin laki-laki yang kotor karena pecahan telur. Semuanya ini mengandung perlambang. Kemudian pengantin disandingkan di pelaminan didepan krobongan.
Note: Upacara temu pengantin berlaku umum, hampir tidak ada perbedaan diseluruh pulau Jawa sampai dengan saat ini.
3. Setelah acara temu pengantin: Acara ngabekti yaitu pengantin laki-laki ngabekti (mencium suku) bapak dan ibu pengantin wanita; Pengantin wanita ngabekti ke pengantin laki-laki; Seh Amongraga minta agar ibu pengantin wanita Ni Mintarsih agar membuang semua sesaji karena hal tersebut termasuk kepercayaan menyembah berhala. Ini berkenaan transisi tradisi Jawa kuno maupun Hindu yang penuh dengan saji-sajian menuju tradisi Islam yang tidak memerlukan sesaji.
4. Seh Amongraga mengajari pengantin wanita perihal ilmu agama: Tentang sejatinya sahadat, rukun solat, tempatnya rasa sejati, kewajiban istri; Esok harinya kedatangan tamu dari Gresik, Surabaya, Sidayu, Tuban dan Rembang yang mengantarkan sumbangan hal ini berkenaan dengan kedudukan Ki Bayi Panurta sebagai guru sprirituil para Bupati bang wetan (Jawa Timur); Ki Bayi Panurta meminta Seh Amongraga memberi penjelasan kepada yang hadir tentang kitab Ibnu Hajar yaitu: kedudukan Rasul, solat sunah dan solat wajib.
5. Perayaan pengantin di tempat para keluarga: Ini berkenaan dengan tradisi ngunduh mantu (ikut merayakan) yang dilakukan oleh keluarga dekat. Pengantin diarak menuju ketempat Jayengwesthi (kakak Niken Tambanraras) diadakan kenduri disana; Pengantin diunduh (dirayakan) ditempat Jayengrana (kakak yang satu lagi dari Niken Tambanraras) dengan gamelan yang mengumandangkan berbagai tembang. Jamal-Jamil mempertunjukan kebolehan olah kanuragan (seperti debus di Banten).
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam jilid-6 adalah:
Cerita/Legenda: jalannya upacara pernikahan antara Seh Amongraga dan Niken Tambanraras maupun kebiasan ngunduh mantu (perayaan ulangan) ditempat keluarga dekat. (Note: kalau saat ini ngunduh mantu adalah perayaan yang dilakukan di tempat keluarga pengantin laki-laki, karena perayaan utama selalu dilakukan ditempat keluarga pengantin wanita).
Adat Istiadat: tatacara, pakaian, dan upacara pengantin dikalangan pesantren yang berbeda dengan tatacara, pakaian dan upacara pengantin dikalangan keraton (istana); penjelasan tentang khasiat berbagai daging binatang; penjelasan adanya berbagai tembang: Kakawin, tembang Ageng, Tengahan dan Macapat, tembang Ageng biasanya yang dilagukan oleh Dalang Wayang Purwa; penjelasan tentang penanggalan Jawa berdasarkan Wuku (pengaruh Hindu yang saat ini juga berlaku di kalangan masyarakat tradisionil di Bali).
Pengetahuan Spirituil/Agama: Sejatinya sahadat, rukun solat, tempatnya rasa sejati, kewajiban istri; Kitab Ibnu Hajar tentang kedudukan Rasul, solat sunah, solat wajib; Wirid syariat, wirid tarekat, wirid hakekat, wirid mahrifat; sajatining Pangeran

Sumber: seratcenthini.wordpress.com

Minggu, 25 September 2011

Ringkasan Serat Centhini – Jilid 05


by Jayeng Resmi
Serat Centhini Jilid-5 berisi 86 pupuh dari pupuh 321 (mulai tembang 40) s/d 356, perjalanan pulang Mas Cebolang dari Wirasaba ke Sokayasa, Banyumas, perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari, Rangcangkapti meninggalkan Sokayasa menuju Wanataka dan perjalanan Jayengresmi meninggalkan Gunung Karang, Pandeglang, Banten untuk mencari adik-adiknya sampai ke Wanamarta diselatan Gunung Giri, Jawa Timur.
Rute perjalanan pulang Mas Cebolang: sebagai sinden kentrung bermain dikediaman adipati Wirasaba; lari dari kadipaten Wirasaba karena ketahuan Mas Cebolang selingkuh dengan para selir adipati Wirasaba; naik ke gunung Semeru ingin ketemu buyut Danardana tapi tidak ketemu; pergi ke gua Sigala setelah bertapa selama 7 hari baru bisa ketemu buyut Danardana disuruh pulang ke Sokayasa.
Rute perjalanan Mas Cebolang, Jayengsari dan Rangcangkapti: Jayengsari dan Rangcangkapti sudah diambil anak oleh Seh Akadiyat di Sokayasa; Mas Cebolang sampai di Sokayasa; setelah beberapa lama Mas Cebolang dinikahkan dengan Rangcangkapti; tidak beberapa lama kemudian Seh Akadiyat dan istrinya meninggal dunia; pada suatu hari ada tamu dua santri dari Surabaya disangka utusan dari Pangeran Pekik (adik ipar Sultan Agung) yang juga Bupati Surabaya untuk mencari mereka; karena khawatir Mas Cebolang, Rangcangkapti dan Jayengsari meninggakan Sokayasa; menyusuri hutan Gunung Kidul menuju ke barat; sampai di gunung Lima ketemu pendita Hercarana diminta tinggal di dhukuh Wanataka dan berganti nama Jayengsari jadi Seh Mangunrasa, Mas Cebolang jadi Seh Anggungrimang, santri Buras jadi Monthel, sedangkan Rangcangkapti tidak dirubah.
Rute perjalanan Jayengresmi: Jayengresmi yang diangkat anak oleh Ki Ageng Karang di gunung Karang, Pandeglang, Banten sudah berganti nama jadi Seh Amongraga sedangkan santri Gathak & Gathuk ganti nama jadi Jamal dan Jamil; Jayengresmi pamitan Ki Ageng Karang untuk mencari adik-adiknya; disuruh pergi ke Wanamarta ketemu Ki Bayi Panurta; mampir di Maledari gunung Gora ketemu Buyut Wasi Bagena; sampai di dhukuh Andong Tinunu sebelah timur laut gunung Sindoro ketemu Seh Sukmasidik; sampai di dhukuh Wanamarta (sekitar Mojokerto, Jawa Timur), ketemu Ki Bayi Panurta yang punya anak tiga yaitu: Niken Tambangraras, Jayengwesthi dan Jayengraga; setelah beberapa lama Seh Amongraga dinikahkan dengan Niken Tambangraras, perayaan pernikahan Seh Amongraga dengan Niken Tambangraras yang diramaikan dengan nanggap sinden ronggeng.
Sedangkan cerita/legenda, adat istiadat, ilmu spiritual yang dibicarakan dalam pertemuan dengan orang-orang tersebut diatas adalah:
Cerita/Legenda: masih melanjutkan petualang seks Mas Cebolang ketika jadi sinden kentrung di kediaman adipati Wirasaba dengan selir-selir sang Adipati sampai ketahuan dan melarikan diri waktu mau ditangkap; cerita tentang penari ronggeng dengan petualangan seksnya.
Adat Istiadat: keutamaan wanita dalam pernikahan.
Pengetahuan Spirituil/Agama (pada jilid-5 berisi sebagian besar pengetahuan sprituil berkenaan dengan agama Islam ataupun sinkretisasi agama Islam), beberapa yang dijelaskan cukup panjang: Mukmin linuhung; Tempatnya Hyang Agung di gedung Retna Adiluhung; Tahapan pengetahuan tasauf: syariat, tarekat, hakekat dan makrifat; Curiga manjing rangka, rangka manjing curiga.
Pengetahuan Spirituil/Agama yang dijelaskan hanya sekilas sehingga sulit dimengerti: Wahyu Jatmika; Mati dalam hidup, hidup dalam kematian; Asal mulanya alam semesta dan Datulah; Roh-ilapi, budi dan nafsu, penjelasan tentang nafsu amarah, aluamah, mutmainah, supiyah, budi baik dan buruk, rasa jati; Keutamaan ilmu; La-takyun-kun, nukat gaib, wilayat, gaibulguyub, gaib-uluwiyah; Penjelasan tentang malaekat, nabi, wali, mukmin kas, cahya, mujijat mangunah, keramat

sumber: seratcenthini.wordpress.com